Find anything on DBL Indonesia
Skuad Putri Raih Kemenangan di Laga Uji Coba
8 January 2019

SURABAYA - Keseruan tak hanya tersaji pada scrimmage game tim putra. Tim putri pun menyajikan pertandingan yang sengit ketika melawan tim basket Whatsapp Surabaya. Mereka berhasil menang dengan skor 43-33.Sejak kuarter pertama, kedua tim saling beradu strategi. Tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 mampu tampil dominan hingga kuarter dua berakhir. Pada kuarter tiga, tim Whatsapp coba balik melawan dan memaksa tim putri untuk bermain cepat. Namun berkat kokohnya pertahanan Namira Ramandha dkk, mereka berhasil mempertahankan keunggulan hingga akhir kuarter.Salah satu kunci tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 mampu memenangkan pertandingan adalah disiplin dalam bertahan. Head Coach tim putri I Gusti Ngurah Teguh menyebutkan bahwa komunikasi antar pemain sangat efektif untuk saling meningkatkan defense."Sangat salut dengan pola pertahanan dan cara mereka berkomunikasi saat scrimmage game kali ini. Meskipun lawan udah ngajak bermain cepat dan beberapa kali melakukan body contact, mereka berani menandingi permainan lawan," ujar coach asal SMA Soverdi Tuban, Bali ini.Meski demikian, Teguh tetap memberikan beberapa catatan untuk penampilan timnya, yaitu mental yang masih goyah.Sebelum melakoni laga ujicoba ini, terlebih dahulu tim para bintang tersebut mengunjungi kantor DBL Indonesia yang terletak di Surabaya Town Square. Di sana, mereka mendapat suntikan semangat. Bukan lewat kelas, sebagaimana biasanya, namun dengan melihat berbagai memorabilia tim All-Star tahun-tahun sebelumnya.Selain itu, hadiah spesial juga diberikan. Sepasang sepatu DBL Ardiles AZA 6 diberikan kepada setiap pemain dan pelatih. Sepatu tersebut akan menemani perjalanan tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 ke Amerika Serikat pada 20 Februari mendatang.Usai training camp pertama ini, seluruh skuat akan pulang ke tempat masing-masing. Mereka akan berkumpul kembali di Surabaya untuk menjalani training camp kedua pada 17 Februari, 3 hari sebelum jadwal keberangkatan ke AS. (*)...

 
Defense Apik Tim Putra Sulit Ditembus Lawan
8 January 2019

SURABAYA – Scrimmage Game menjadi agenda penutup serangkaian acara training camp pertama Honda DBL Indonesia All-Star 2018. Dalam laga uji coba yang diselenggarakan di DBL Academy Pakuwon Mall Surabaya, tim putra menghadapi BBM Vikings Warriors Surabaya yang merupakan tim divisi. Sedangkan tim putri berhadapan dengan tim divisi Whatsapp Surabaya.Di sektor putra, skuad asuhan Coach Jap Ricky dan Docta Ignoran harus mengakui keunggulan tipis BBM Vikings Surabaya dengan skor 63-66. Skuad yang berisi sejumlah nama mantan pemain profesional seperti Gege Nagata, Freddy Chen, Eko sasmito, Erwin triono, dan Erik Wahyudi, serta alumni Honda DBL Indonesia All-Star 2013, Marvanico Tjokro, sempat membuat tim Honda DBL Indonesia All-Star minder.Sempat tertinggal 42-23, Andreas Bonnefilio dkk mulai bangkit dan menunjukkan ketajamannya di paruh akhir permainan. Bahkan, mereka behasil mengejar 19 angka dan membuat skor seimbang 56-56 di pertengahan kuarter empat.Namun sayang, di menit-menit akhir mereka banyak melakukan turnover. Gege Nagata, guard tim BBM Vikingss Warriors memastikan kemenangan timnya atas tim All-Star setelah sukses melakukan three-point play di akhir pertandingan.“Meski kalah, saya mengakui bahwa mereka ini hebat. Mereka hustle melawan tim yang secara pengalaman jauh diatas mereka. Selain itu, defense mereka juga luar biasa di kuarter tiga dan empat. Nantinya, akan kami evaluasi agar makin siap sebelum berangkat ke Amerika,” ujar coach Jap Ricky.pa catatan untuk penampilan timnya, yaitu mental yang masih goyah.Sebelum melakoni laga ujicoba ini, terlebih dahulu tim para bintang tersebut mengunjungi kantor DBL Indonesia yang terletak di Surabaya Town Square. Di sana, mereka mendapat suntikan semangat. Bukan lewat kelas, sebagaimana biasanya, namun dengan melihat berbagai memorabilia tim All-Star tahun-tahun sebelumnya.Selain itu, hadiah spesial juga diberikan. Sepasang sepatu DBL Ardiles AZA 6 diberikan kepada setiap pemain dan pelatih. Sepatu tersebut akan menemani perjalanan tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 ke Amerika Serikat pada 20 Februari mendatang.Usai training camp pertama ini, seluruh skuat akan pulang ke tempat masing-masing. Mereka akan berkumpul kembali di Surabaya untuk menjalani training camp kedua pada 17 Februari, 3 hari sebelum jadwal keberangkatan ke AS. (*)...

 
300 pasang AZA 6 Sold Out Kurang dari 11 Jam
18 December 2018

AZA 6 mendapat respons luar biasa. Sejak kali pertama diperkenalkan kepada publik, Sabtu (15/12) lalu. Seakan sudah tak sabar menunggu, kesempatan pre order secara online tak disia-siakan. Kurang dari 11 jam, sebanyak 300 pasang pertama AZA 6 langsung ludes terjual.Sejatinya, pada tanggal 5 Januari 2019 nanti. Sepatu basket seri terbaru kolaborasi DBL Indonesia dan Ardiles ini baru bisa dibeli langsung di berbagai kota. Demi mengakomodir mereka yang sudah tak sabar. Dibukalah pre order secara online. Dibatasi hanya 300 pasang. Setiap pemesan hanya dibatasi boleh memesan satu pasang AZA 6.Informasi soal pre order 300 pasang pertama sepatu AZA 6 ini diumumkan lewat akun Instagram @dblstore Senin (17/12), pada pukul 09.00 WIB. Pihak DBL Store berencana melayani pre order hingga Rabu (19/12). Namun,  kurang dari 11 jam, kuota tersebut sudah tak tersisa lagi alias telah habis dipesan.Andreas, 14 tahun salah satu pembeli dari Aceh mengungkapkan bahwa ia sangat tertarik setelah melihat desain AZA 6. Tepat jam 9 pagi saat pre order dibuka, Andreas langsung membeli sepatu hasil kolaborasi DBL Indonesia dan Ardiles tersebut.“AZA 6  ini keren dan elegan banget. Dengan warna hitam, sepatu ini bisa aku pakai waktu sekolah, olahraga, bahkan nongkrong. Jadi nggak sabar nih nunggu barangnya datang,” ujar siswa SMP Methodist AcehAZA 6  merupakan evolusi dari edisi sebelumnya, AZA 5, yang telah dirilis pada penghujung 2017 lalu. Presiden RI Joko Widodo berkesempatan mengenakan sepatu itu saat main basket di Istana Bogor, bareng para pemain dan alumni Honda DBL (Developmental Basketball League). Orang nomor satu di tanah air ini memberi apresiasi setinggi-tingginya. Karena harganya sangat terjangkau dan diproduksi oleh produsen dalam negeri sendiri.  AZA 6 yang dibandrol dengan harga Rp 428 ribu ini memiliki banyak keunggulan. Bahan dasar upper pada AZA 6 terbuat dari mesh yang berasal dari nilon rajut. Sehingga memberikan sirkulasi udara dan membuat kaki tetap dingin baik saat pertandingan maupun aktivitas lainnya.Pada bagian sol, AZA 6 dilengkapi dengan Megatonic Tech yang terbuat dari poly urathane. Fitur ini membuat pijakan kaki lebih kuat saat melakukan drive dan pivot. Tak berhenti di situ, hitmap dan motif alas kaki herringbone membuat distribusi beban yang dihasilkan ketika melakukan gerakan bisa menyesuaikan kontur kaki.Untuk meminimalisir cedera, AZA 6 menggunakan teknologi phylon sole, membuat sepatu ini ringan, fleksibel, serta memiliki cushion yang dapat meredam getaran saat penggunanya melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi. (*)...

 
The Journey of AZA Shoes
13 December 2018

Tak terasa, sejak 2009 hingga 2017 sudah ada lima DBL Shoes yang diproduksi masal dan kelimanya sangat diterima masyarakat. Tak hanya terjangkau, sepatu basket tersebut juga memiliki kualitas yang tak kalah dengan sepatu di pasaran. Inilah sedikit cerita bagaimana DBL Shoes berkembang.AZA 1 (League Gravity 2k8 DBL): Cikal Bakal dari Langkah AwalSemua berawal dari tahun 2009. Kala itu, Azrul Ananda, CEO dan Founder DBL Indonesia yang sedang meeting bersama Prajna Murdaya, Bos Grup Berca memberikan sebuah penawaran secara tiba-tiba berupa dua pasang sepatu bermerk League. Sepatu tersebut memiliki dua warna yaitu putih polos dengan aksen jahitan biru, satu lagi hitam polos dengan aksen jahitan emas dengan logo DBL di belakangnya lengkap beserta Azrul Ananda dan tanda tangannya. Desain ini seolah menggambarkan memulai segalanya dengan kertas kosong yang siap digambar menjadi lebih sesuatu yang besar.AZA 2 (League Pure Player Ltd AZA): Kolaborasi yang BerlanjutMelihat antusiasme yang besar, kolaborasi pun berlanjut ke sepatu yang kedua. Bernama League Pure Player Ltd AZA, sepatu ini menggambarkan identitas DBL Indonesia dengan warna biru tua. Unsur itu semakin kuat dengan logo si Det (maskot Honda DBL berwujud anjing bertelinga panjang kala itu) berwarna jingga.AZA 3 (League Yin Yang Ltd Azrul Edition): Segudang Cerita dari Warna HijauHijau. Warna inilah yang membuat sepatu ini punya banyak cerita. Hijau selalu menjadi identitas warna olahraga yang ada di Jawa Timur khususnya Surabaya. Jika Jika edisi pertama putih dan hitam polos sebagai simbol awal yang bersih, kemudian yang kedua biru dan oranye sebagai warna asli DBL, edisi ketiga ini menggambarkan perjalanan hidup Azrul Ananda yang tinggal di Surabaya dengan warna dominasi hijau dan kampus tempat kuliahnya dulu, California State University, Sacramento.AZA 4 (League Hyper Drive 2 Low AZA): Sacramento Kings yang DisepatukanDi edisi keempat yang dirilis tahun 2012, Hyper Drive 2 Low AZA menjadi sepatu kolaborasi terakhir DBL Indonesia dengan League. Sepatu dengan warna hitam berpadu ungu tersebut menjadi sepatu ditunggu oleh banyak penggemar basket kala itu. Bukan tanpa alasan, warna sepatu ini terinspirasi oleh kesukaan Azrul Ananda terhadap salah satu tim basket NBA, Sacramento Kings yang memiliki warna khas berupa ungu.AZA 5: We Break the Barrier!Selama penyelenggaraan Honda DBL di berbagai kota, sepatu seolah menjadi barrier atau penghalang para pebasket muda untuk mengembangkan bakatnya. Akhirnya, DBL Indonesia bertemu dengan partner baru yang juga berpusat di Surabaya, Ardiles. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu membuat sepatu basket yang berkualitas tinggi, keren, tapi dengan harga terjangkau. Untuk menghancurkan barrier, sekaligus memudahkan semakin banyak anak Indonesia bermain basket.Kala membuat sepatu ini, DBL Indonesia menekankan bahwa harga harus di bawah Rp 500 ribu. Tantangan itu pun langsung dijawab dengan spektakuler. Ardiles  mematok sepatu dengan harga dibawah Rp 400 ribu. Akhirnya, terlahirlah AZA 5 di penghujung 2017 dengan harga Rp 349 ribu.Sepatu AZA 5 ini seolah menjadi penghancur penghalang dalam bermain basket. Hal ini terbukti dari tingginya penjualan sepatu ini. Bahkan, kota-kota kecil di beberapa provinsi, AZA 5 dapat ditemukan di toko-toko “tradisional” di pinggir jalan. AZA 6: Sebuah EvolusiTak lama setelah AZA 5 dirilis, DBL Indonesia dan Ardiles langsung move on dan mengembangkan project baru yang bernama AZA 6. Sebuah evolusi pun muncul pada produk kedua DBL Indonesia bersama Ardiles dalam sepatu basket tersebut. Selain bisa untuk basket, sepatu ini juga memiliki konsep yang wearable dan nyaman digunakan di berbagai kegiatan. Karena, tidak semua orang/anak bisa atau mampu membeli lebih dari satu sepatu.Dengan kenaikan kelas tersebut, DBL Indonesia dan Ardiles juga tetap memasang sebuah “batas” dalam pembuatan sepatu ini. yaitu tidak lebih dari Rp 500 ribu. Dalam tulisan Mimpi Sepatu Aza yang ditulis oleh Azrul Ananda, Ia berharap AZA 6 harus mendorong lagi industri olahraga Indonesia, sambil terus mendorong partisipasi basket untuk berbagai kalangan. (*) ...

 
Mimpi Sepatu AZA
9 December 2018

Oleh: AZRUL ANANDAOrang tua saya selalu mengingatkan ini: Kalau mengerjakan sesuatu, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting terus kerja keras, nanti hasil dan yang diinginkan akan datang dengan sendirinya.Dalam hidup saya, pesan tersebut telah terbukti dalam berbagai bidang. Yang tidak pernah saya bayangkan, bisa menjadi kenyataan di dunia sepatu. Lebih spesifik lagi: Sepatu basket.Walau pernah jadi kolektor sepatu level gila, saya tidak pernah membayangkan bakal punya sepatu edisi Azrul Ananda alias Aza. Apalagi sampai enam edisi, dengan hadirnya AZA 6 hasil kolaborasi Ardiles dan DBL di penghujung 2018/awal 2019 ini.Bukan sekadar punya sepatu, semuanya membawa misi jelas.Bukan sekadar punya-punyaan. Bukan sekadar keren-kerenan.Walau tetap harus keren!Awalnya, sepatu Azrul Ananda adalah untuk membuktikan kalau industri olahraga di Indonesia bisa bikin sesuatu yang keren. Dan belakangan --dimulai dengan AZA 5 di penghujung 2017-- supaya industri olahraga Indonesia bisa mendorong partisipasi olahraga di negeri sendiri.Semua itu bermula pada 2009…DARI ASING KE INDONESIAPada 2008, liga basket SMA yang saya prakarsai, Honda DBL, mulai agresif berekspansi ke berbagai penjuru Indonesia. Dalam beberapa tahun hingga 2008, liga ini telah di-support oleh brand sepatu basket asing. Keinginan untuk bekerja bersama brand Indonesia belum terwujud.Kemudian, sahabat saya Prajna Murdaya –bos Grup Berca-- memberi penawaran yang tidak mungkin kami tolak. Dalam sebuah meeting, dia tiba-tiba menunjukkan dua pasang sepatu merek League. Yang satu putih polos dengan aksen jahitan biru, satu lagi hitam polos dengan aksen jahitan emas. Di bagian belakangnya ada logo DBL. Di lidahnya ada nama “Azrul Ananda” dan tanda tangan saya.Sepatu itu bernama Gravity 2k8 DBL. Sekarang, saya mengingatnya sebagai AZA 1. Desain polos sangat saya sukai, karena seperti memulai segalanya dengan kertas kosong.Dan ini sepatu Indonesia, buatan Indonesia. Eng ing eng! Sekarang waktunya melangkah ke depan!Ternyata, sambutan penjualan sepatu itu menggembirakan. Setelah itu, setiap tahun, muncul edisi Azrul Ananda.Pada 2010, ada Pure Player Ltd Aza, dengan desain tinggi dan warna biru gelap beraksen oranye. Warna itu adalah warna corporate orisinal DBL, sekaligus salah satu kombinasi warna favorit saya.Pada 2011, ada Yin Yang Ltd Azrul Edition. Sepatu ini bisa dibilang yang membuat “brand AZA” melejit. Warnanya kombinasi hijau dan putih. Satu, karena besar di Surabaya dan Jawa Timur, di mana tradisi olahraganya selalu berwarna hijau. Plus, almamater saya adalah California State University Sacramento, yang warnanya identik hijau.Saya punya pengalaman seru soal Yin Yang ini. Mas Imam Nahrowi, Menteri Pemuda dan Olahraga yang juga dari Jawa Timur, ternyata pernah membeli dan mengenakannya. Alasan dia sangat bisa dimaklumi: Karena warnanya hijau…Lalu pada 2012, muncul Hyper Drive 2 Low AZA. Warnanya hitam sembur ungu. Sumber inspirasinya: Sacramento Kings, tim basket favorit saya.Semuanya selalu mendapat sambutan pasar yang baik. Selalu sold out, bahkan harus diproduksi ulang. “Sepatu edisi Azrul Ananda selalu menjadi produk yang ditunggu-tunggu,” kata Prajna saat rilis Hyper Drive 2 Low AZA dulu.Pada saat ini, saya mulai terbiasa lihat nama dan tanda tangan saya pada sebuah sepatu, atau terpasang pada dinding gerai sportswear di berbagai mal.Saya selalu merasa aneh. Karena walau saya suka olahraga dan bisa banyak olahraga, saya bukan pemain basket! Pemain NBA saja belum tentu punya sepatu sendiri. Pemain Indonesia saja belum ada, walau akan segera ada.Mungkin, orang memberi respons positif karena semua produk itu dihasilkan berkat misi yang positif dan benar-benar dari hati. Karma?THE NEXT LEVELWaktu berjalan. DBL terus berkembang. Saya bahkan punya pengalaman manis dan berharga menjadi commissioner liga basket nasional (NBL Indonesia) selama lima musim.Saya menyadari, harus ada upaya ekstra untuk membuat basket semakin populer di Indonesia. Basket sudah populer. Tapi belum sepopuler yang diimpikan banyak penggemarnya.Ya, DBL, tepatnya Honda DBL, sudah menjangkau hampir semua provinsi di Indonesia. Ya, peserta liga basket pelajar ini sudah lebih dari 40 ribu orang setiap tahunnya, dengan penonton di stadion lebih dari 1 juta orang per tahun.Tapi, basket masih belum sebesar itu. Basket masih bisa jadi jauh lebih besar lagi. Itu berarti, partisipasinya harus ditingkatkan. Saya percaya, olahraga apa saja, kalau mau maju, harus terus bekerja keras untuk meningkatkan tingkat partisipasinya. Baik itu partisipasi sebagai peserta maupun menjadi penonton/penggemar.Lalu saya dan teman-teman di DBL Indonesia, perusahaan anak muda dan olahraga, memikirkan faktor-faktor apa yang menghalangi partisipasi tersebut. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mendorong partisipasi tersebut.Ternyata, untuk basket, salah satu kendala adalah sepatu.Ya, di negara kita ini, harga sepatu basket bisa menjadi sebuah barrier. Sebuah pe...

 
Junior DBL Kolaborasi Internasional di Akhir 2019
8 December 2018

Surabaya – Konsisten digelar sejak 2005, JRBL (Junior Basketball League) akan naik level pada 2019 nanti. Kompetisi basket pelajar tingkat SMP ini bakal mengusung konsep baru. Serta, akan melibatkan kolaborasi internasional. Seperti sang 'kakak', Honda DBL (Developmental Basketball League), yang telah diakui sebagai kompetisi basket pelajar terbesar di tanah air.Diawali dengan rebrand atau penggantian nama liga menjadi Junior DBL. Perubahan ini sudah dirilis November 2018 kemarin. Pada babak penyisihan Surabaya. Babak utama akan digelar Januari nanti di DBL Arena Surabaya. Namun, masih dengan konsep lama seperti tahun-tahun sebelumnya.Konsep baru Junior DBL akan diterapkan penuh pada season 2019. Menurut rencana, akan digelar di tujuh kota, dari tujuh provinsi. Yakni, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Bandung, Jakarta, Balikpapan, dan Denpasar. Tip-off musim baru (Junior DBL) ini dimulai Oktober 2019 mendatang.”Banyak upgrade yang akan kami lakukan. Tujuannya, agar kompetisi yang melibatkan student-athlete tingkat SMP ini (Junior DBL) makin membesar. Sama besarnya seperti Honda DBL,” ujar Masany Audri, Direktur DBL Indonesia.Digelar sejak 2005 di Surabaya. Kompetisi basket tingkat pelajar SMP ini semula diputar hanya sebagai pendukung untuk liga SMA (DBL). Pada tahun 2015, diperluas pelaksanaannya di tujuh kota dari enam provinsi di Indonesia. Lebih dari 6.000 studentathlete berpartisipasi dan melibatkan lebih dari 170.000 penonton.Seiring pertumbuhan secara spektakuler itu. DBL Indonesia selaku penyelenggara, bertekad memperbesar Junior DBL. Mengikuti model pengembangan DBL yang akhirnya dimainkan di setiap wilayah di Indonesia.Sama seperti DBL, Junior DBL nantinya tak hanya mengakomodir passion para siswa SMP di bidang basket. Melalui kompetisi dance serta jurnalistik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ini. (*)...

 
Measurement Test Jadi Materi Pembuka
26 November 2018

Para pemain terbaik dari 30 kota tempat diselenggarakannya Honda DBL 2018 sudah mulai berdatangan di Surabaya hari ini. Acara yang akan dimulai pada tanggal 28 November hingga 1 Desember yang diadakan di DBL Academy Pakuwon Mall akan mempertemukan 250 campers dari seluruh Indonesia.Kesempatan hari ini dirasakan pertama kali oleh First Team asal Jambi, Medan, Aceh, Papua, Merauke dan Jakarta. Para pemain pilihan langsung dibawa menuju ke hotel Ibis Budget untuk mengikuti agenda measurement test.Measurement test ini dilakukan untuk mengukur vertical jump, lebar tangan, lebar jangkauan, tinggi dan berat badan para campers yang nantinya akan memperebutkan tiket emas ke Amerika sebagai Honda DBL Indonesia All Star team."Measurement test ini bertujuan untuk mengetahui profil dari para campers. Jadi dengan ini kami bisa mengetahui progres para campers yang tahun lalu sudah mengikuti camp dan juga untuk data para campers yang baru bergabung," jelas Alfian yasir, PIC Honda DBL Camp 2018.Salah satu campers asal Sumatra series, Frederick Francisco yang sangat menikmati kegiatan hari pertamanya. Antusias itu tergambar ketika ia sharing tentang kegiatan ini kepada Alfian Yasir. Beberapa pertanyaan pun terlontar, salah satunya adalah tentang tujuan dari measurement test ini."Melihat hasil measurement test kali ini saya merasa mengalami peningkatan dibeberapa bagian fisik. Terutama dalam berat badan, tinggi badan, dan vertical jump. Menurut saya, test ini juga berfungsi buat kita para campers untuk tahu detil dari fisik sendiri," ungkap campers yang tahun lalu masuk 50 besar Honda DBL Camp tersebut....

 
MORE NEWS