Find anything on DBL Indonesia

Tunggu Pinangan Tim LeBron James

dblindonesia.com - 16 August 2009

Neal Meyer tidak hanya menularkan ilmu dan pengalaman sebagai asisten pelatih NBA ketika menjalani sebuah kamp. Dia juga bisa memperkaya kepribadian lewat komunikasi dengan para pemain dan pelatih di berbagai negara yang dikunjungi. Berikut petikan wawancara dengan Neal Meyer, asisten pelatih yang pernah memperkuat LA Clippers, San Antonio Spurs, dan Portland Trail Blazers itu.

Anda sudah menjalani kamp di beberapa negara. Bagaimana kesan Anda?
Indonesia adalah negara ketiga yang saya singgahi untuk kamp. Sebelumnya, saya menjalani kamp di Korea Selatan pada Mei 2008 dan Prancis pada Agustus 2008. Atmosfer di dua negara itu sangat bagus. Kemampuan bermain anak-anak Prancis lebih bagus. Tapi, anak-anak Korea juga menunjukkan semangat ketika berlatih. Sangat menyenangkan ketika anak-anak berlatih dengan bersemangat. Itu membuat kami tambah bersemangat.

Apa harapan Anda dengan Indonesia Development Camp (IDC) 2009?
Saya rasa, Surabaya memiliki antusiasme tinggi terhadap basket. Saya melihat poster Kevin Martin yang begitu besar dan arena yang sangat bagus. Anak-anak bakal belajar dan menemukan kesenangan di kampnanti. Kami akan berupaya membuat mereka menjadi pemain yang lebih baik.
Tapi, kami juga bisa belajar dari pelatih-pelatih di sini. Interaksi dengan mereka bakal memperkaya pengetahuan kami. Sebagai pelatih, kami harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan.

Bisa digambarkan job description Anda sebagai asisten pelatih NBA?
Banyak sekali tugas yang harus kami lakukan. Di antaranya, menjadi penengah ketika hubungan pemain dan head coach tidak bagus. Jika berperan sebagai advance scout, kami harus selalu bisa menyediakan rekaman peta kekuatan lawan. Kami juga harus selalu memantau perkembangan kondisi pemain dan melaporkannya kepada pelatih kepala. Itu hanya sebagian contoh.

Pemain NBA adalah deretan pria kaya raya yang kadang memiliki ego tinggi, pernah mengalami masalah dengan hal itu?
Bukan hanya kaya, mereka juga seorang superstar. Menghadapi kondisi seperti itu, paling awal seorang pelatih harus bisa membuat mereka respek. Kalau itu tidak terjadi, seorang pelatih akan sulit menjalankan tugas. Tapi, umumnya, pemain NBA menyenangkan secara personal.

Apa momen terindah dan terburuk Anda selama di NBA?
Saya memulai debut di NBA bersama San Antonio Spurs (musim 1994–1995). Saya sangat beruntung, tim saat itu diperkuat banyak pemain hebat seperti David Robinson. Bekerja sama dengan pemain hebat seperti dia memberikan kenangan yang tidak terlupakan. Di sisi lain, itu juga menjadi momen paling menyakitkan karena kami harus kalah (2-4) oleh Houston Rockets di final wilayah barat (kala itu Rockets diperkuat legenda Hakeem Olajuwon).

Siapa pelatih favorit Anda?
Semua pelatih di NBA adalah sosok hebat. Mereka punya kepribadian yang baik dan karakter yang berbeda. Tapi, saya respek dengan cara melatih Jerry Sloan (pelatih Utah Jazz). Dia sangat tegas dan disiplin. Selain itu, dia bisa bertahan di satu tim hingga waktu yang sangat lama (di Jazz mulai 1988 sampai sekarang).

Apakah Anda punya keinginan menjadi pelatih kepala suatu saat?
Setiap asisten pelatih tentu ingin menjadi pelatih kepala. Entah di tingkat sekolah maupun kampus. Termasuk saya. Tapi, persaingan di NBA sangat ketat. Tidak mudah menjadi head coach. Kalaupun belum terpilih menjadi head coach, saya tetap bahagia bisa terlibat di basket. Tapi, jika mampu menjadi pelatih kepala, itu akan sangat memuaskan.

Kabarnya, musim depan Anda bisa setim dengan LeBron James di Cleveland Cavaliers?
Kontrak saya dengan Clippers berakhir Juni lalu. Memang ada salah satu posisi asisten pelatih di Cavaliers yang kosong karena baru saja ditinggal John Kuester (musim depan jadi head coach Detroit Pistons). Saya beberapa kali berbicara dengan Mike Brown (head coach Cavaliers) mengenai hal itu. Namun, sejauh ini belum ada kepastian. Saya masih menunggu.

Bagaimana pendapat Anda tentang kerja keras dan bakat?
Tanpa kerja keras, seseorang, termasuk pemain basket, tidak akan sukses. Tapi, kerja keras saja tidak akan menjamin seseorang sukses. Caranya harus benar. Sedangkan bakat bakal membuat seorang pekerja keras tersebut berbeda dengan yang lain. Pemain seperti LeBron berlatih dengan sangat keras. Dia juga memiliki bakat yang luar biasa.

Di luar basket, apa impian terbesar yang ingin Anda capai?
Tentu saya ingin tim saya menjadi juara. Tapi, di luar basket, saya ingin melihat anak saya tumbuh besar, kemudian melihat mereka menikah. Itu sangat menyenangkan bagi saya. (ru/ang)

Administrator

SHARE THIS

TITLE PARTNER

OFFICIAL PARTNERS

OFFICIAL SUPPLIERS

MEDIA PARTNERS

SUPPORTED BY

Please to post comment

0 Comments